Tertarik dengan Investasi Saham

Siang hari di sebuah kafe di Bogor. Saya ngopi2 sama teman saya. Teman saya bercerita bahwa dia bikin rekening saham. Saat itu saya tidak punya rekening saham, hanya pegang Reksadana. Walaupun saya sudah lama penasaran berinvestasi Saham, banyak orang mengatakan bahwa investasi saham itu high-risk, sehingga saya belum berinvestasi saham sampai momen tersebut. Setelah pertemuan itu, rasa penasaran saya muncul lagi sehingga saya pun mulai mencari tahu Sekuritas yang punya aplikasi online untuk jual beli saham. Akhirnya pilihan saya jatuh ke Indopremier Online Trading (IPOT). Alasannya sederhana, karena teman saya membuat akunnya di IPOT. Ada banyak sekuritas yang menyediakan aplikasi online, beberapa yang dipakai oleh teman-teman yang saya kenal, antara lain HOTS Mobile dari Mirae Asset Sekuritas dan Mandiri Sekuritas Online Trading (MOST) dari Mandiri Sekuritas.

Saya membeli saham pertama saya tanpa pikir panjang yaitu TLKM. Keputusan ini saya ambil hanya karena saya pernah kerja di salah satu cucu perusahaan tersebut. Bahkan, cenderung tanpa memikirkan apakah saham ini akan naik atau turun nilainya. Selang beberapa waktu, portofolio saya merah alias nilainya turun (bahasa kerennya: floating loss) dan saya pun mulai merasa panik. Mau dijual tapi sayang untuk cut-loss. Akhirnya tidak saya jual, saya biarkan aja sambil berdoa dalam hati “Semoga suatu saat naik”. Kemudian, saya pun berpikir “Ngga bisa gini terus. Gw harus bisa menganalisis saham, supaya bisa untung dan ga panik kalau harganya turun”. Kemudian, saya pun mulai mencari-cari ilmu bagaimana supaya saya bisa mengoptimalkan profit di instrumen saham.

Berkenalan dengan Pendekatan Teknikal & Fundamental

Pertama kali saya mengedukasi diri saya adalah dengan mengikuti kelas IPOT Edukasi yang diselenggarakan oleh Indorpremier Sekuritas (sekuritas saya) dengan topik analisis teknikal saham, atau pendekatan ini lebih populer dikenal sebagai trading saham. Saat kelas saya belajar antara lain tentang support, resistance, candlestick, dan analisis trend secara umum. Lumayanlah, saat itu saya sedikit mengerti. Kemudian, saya juga ikut grup-grup trader (sebutan untuk orang-orang yang trading saham) di telegram buat nambah-nambah pengetahuan aja. Singkat cerita, kalau jadi trader tetep aja ga yakin dengan analisis trend gini karena bergantung banget sama sentimen pasar yang ga bisa ditebak. Memang, dalam jangka pendek bisa aja saya hoki sehingga bisa untung double-digit persen, tapi di sisi lain juga bisa mendadak rugi. Menurut saya pribadi, kekurangan trading adalah saya tetap harus mantengin chart secara periodik — bahkan yang ekstrim bisa mantengin chart setiap hari — dan ada rasa deg-degan terus. Mungkin untuk sebagian orang suka dengan deg-degannya cari untung di pasar modal dengan trading, tapi saya pribadi ga cocok. Saya mau hidup tenang dan ga perlu mantengin chart setiap hari. Saya pun mencari informasi untuk pendekatan yang lain.

Saya pun menemukan ternyata ada pendekatan lain selain trading, yaitu investing. Investing ini pendekatannya lebih santai, karena kita tidak hanya melihat pergerakan harga saham jangka pendek, melainkan menilai kinerja fundamental perusahaan tersebut secara periodik. Kita bisa melihat kinerja perusahaan dari laporan keuangan perusahaan yang bisa diperoleh di website idx.co.id. Tetap ada usaha yang harus kita lakukan, antara lain menganalisis laporan keuangan tersebut berdasarkan rasio-rasio keuangan, melihat rekam jejak manajemen serta memperkirakan nilai wajar perusahaan. Akan tetapi, menurut saya waktu dan perhatian yang harus dialokasikan tidak lebih banyak daripada pendekatan trading. Alih-alih harus melakukan analisis teknikal harian atau mingguan, saya melakukan analisis fundamental saat laporan keuangan sudah publish saja, yaitu tiga bulanan. Pendekatan ini lebih pas untuk saya mempertimbangkan kesibukan saya sebagai karyawan penuh waktu.

Berkenalan dengan Value Investing dari Rivan Kurniawan

Satu ketika, saya terpikir untuk mendalami pendekatan analisis fundamental dan saat googling dengan keyword “Workshop Investasi Fundamental”, di first page ketemu halaman Basic Value Investing Rivan Kuriawan. Kemudian, saya juga tetap mencari workshop-workshop lainnya sebagai perbandingan. Dari sisi harga, saya menilai harga workshop dari Rivan Kurniawan relatif lebih murah. Selain itu, materi yang diajarkan juga sesuai dengan kebutuhan saya, yaitu bagaimana membaca dan mengerti laporan keuangan walaupun bahkan tanpa latar belakang keuangan/akuntansi sekalipun, serta memahami cara menilai apakah sebuah saham sedang murah (bahasa umumnya; undervalue) atau tidak. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti workshop tersebut.

IMG_0296.jpeg
Dokumentasi Kelas Basic Value Investing, Jakarta, 8 September 2018

Garis Besar Materi workshop

Secara umum, poin-poin di bawah ini adalah materi yang diajarkan Pak Rivan waktu workshop basic Value Investing:

  1. Memahami laporan keuangan
  2. Membaca 3 Laporan Keuangan: Balance Sheet, Cash Flow serta Profit & Loss
  3. Mengerti hubungan antara Cash Flow, Balance Sheet & Profit & Loss
  4. Memahami Rasio Keuangan: Net Profit Margin (NPM), Price-to-Earnings Ration (PER), Price-to-Book Value (PBV), Debt-to Equity Ratio (DER)
  5. Memahami Konsep Margin of Safety
  6. Mencari saham yang salah harga dengan Value Investing
  7. Melakukan Valuasi Saham untuk profit maksimal
  8. Memahami Money Management dalam Value Investing

Saya sendiri merasa sangat terbantu untuk memahami fundamental analisis setelah dari Workshop ini, walaupun background saya bukan dari Finance/Accounting. Pak Rivan tidak hanya menyampaikan materi yang sifatnya teori tetapi juga bedah emiten (sebutan untuk perusahaan yang sahamnya dijual-belikan secara publik di pasar modal). Selain itu, seluruh peserta dibagi dalam kelompok dan diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan materi dengan membedah emiten yang disepakati di kelompok.

IMG_0109.jpeg
Saya (baju hijau) dan peserta lain dalam Momen Bedah Emiten Kelompok

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas masing-masing poin dari materi Value Investing, tapi saya mau mengangkat dua hal yang menurut saya sangat menarik, yaitu Margin of Safety & Money Management.

Margin of Safety

Margin of Safety secara sederhana adalah selisih antara market price (harga pasar) dan intrinsic value (nilai intrinsik atau bisa dibilang perkiraan nilai wajar). Konsep ini diperkenalkan oleh Benjamin Graham (dikenal sebagai Father of Value Investing) dan penerusnya Warren Buffet (salah satu investor terkemuka dan terkaya di dunia).

Value investing sendiri bertumpu pada prinsip “hanya beli perusahaan yang nilai intrinsiknya jauh di bawah harga pasar”. Walaupun secara teori terdapat kriteria “jauh” yang berlaku umum, namun masing-masing investor dapat memiliki pandangan yang berbeda.

Margin Of Safety.gif
Ilustrasi Margin of Safety. Sumber: Tias Nugraha

Dalam workshop, Pak Rivan menjelaskan cara menghitung nilai intrinsik serta menyebutkan range persentase Margin of Safety yang beliau gunakan dalam menentukan apakah sebuah saham itu undervalue atau tidak. Margin of Safety ini digunakan untuk melakukan screening awal terhadap semua emiten yang ada di pasar modal. Namun demikian, keputusan beli atau tidaknya saham yang undervalue tersebut dilakukan setelah kita mempelajari dengan detail perusahaan tersebut.

Money Management

Satu hal lagi yang menarik untuk saya adalah konsep money management. Money Management yang saya pahami secara sederhana adalah cara bagaimana kita mengelola alokasi dana dan portofolio — kapan masuk, kapan keluar, kapan menambah posisi emiten. Selain menyampaikan hal-hal teknis terkait bagaimana cara melakukan Money management yang baik, salah satu prinsip yang disampaikan oleh Pak Rivan dalam workshop tentang money management adalah kutipan dari opa Warren Buffet di bawah ini.

“Rule no. 1: Never lose money; Rule no. 2: Never forget rule no. 1”

Warren Buffet

Memang penting untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, namun jauh lebih penting lagi untuk menjaga modal yang sudah kita kumpulkan agar tidak hilang. Selain itu, untuk meminimalisir risiko fluktuasi harga jangka pendek dan memaksimalkan keuntungan, sebagai investor juga tidak juga dianjurkan untuk terlalu nafsu saat memutuskan masuk dalam atau keluar dari satu emiten.

TL;DR

Well, kira-kira inilah pengalaman saya berkenalan dengan saham dan juga Value Investing. Saya mulai dari belajar menjadi trader dan mengandalkan analisis teknikal, sebelum akhirnya memutuskan untuk belajar analisis fundamental dan menjadi investor jangka panjang.

Wawasan saya terbuka saat saya mengikuti Workshop Basic Value Investing dari Pak Rivan Kurniawan. Namun demikian, saya merasa masih tetap harus belajar lebih banyak dan berharap dapat belajar juga dari investor lainnya di Indonesia yang berhasil membukukan cuan besar dengan metode Value Investing. Beberapa diantaranya yang saya tau yaitu Pak Lo Kheng Hong, Mas Teguh Hidayat, Mas Andika Sutoro Putra.

Semoga tulisan saya dapat menginspirasi pembaca blog ini yang bercita-cita untuk menjadi investor jangka panjang.

Disclaimer: Tulisan ini murni pengalaman penulis dari awal mengenal pasar modal sampai mengenal Value Investing. Penulis tidak di-endorse oleh tim Rivan Kurniawan.